Melewati Terjal Demi Misi Kemanusiaan

  • Whatsapp
Melewati Terjal Demi Misi Kemanusiaan

Menjangkau Vaksinasi di Daerah Terpencil. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com – Sebuah mobil membawa boks warna putih tiba di Pelabuhan Tering, Kutai Barat, Kalimantan Timur, jelang tengah hari. Sejumlah orang bergegas membuka pintu. Tampak mengeluarkan boks putih berisi vaksin penawar virus Covid-19 dengan penuh hati-hati.

Bacaan Lainnya

Di dermaga, kapal bercat putih sudah bersandar. Mesinnya telah menyala. Boks itu kemudian dimasukkan ke dalamnya.

Setelah melakukan pengecekan, kapal meluncur. Membelah tenangnya arus Sungai Mahakam menuju Ujoh Bilang, ibu kota Kabupaten Mahakam Ulu. Kira-kira butuh 2-3 jam untuk sampai ke tujuan.

Setibanya di Ujoh Bilang, petugas langsung mendistribusikan vaksin ke lima kecamatan di sana. Mereka harus berkejaran dengan waktu. Petugas diberikan target agar semua warga segera mendapatkan vaksin.

“Kami di sini memang lebih sering melakukan vaksinasi bergerak atau berjalan,” cerita Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mahakam Ulu drg Agustinus Teguh Santoso, saat berbincang bersama merdeka.com, Selasa (14/9).

Strategi ini terpaksa mereka lakukan. Mengingat jarak antar kampung di Mahakam Ulu sangat jauh. Jika ingin berpindah tempat, terpaksa mengarungi Sungai Mahakam dan anak sungai.

Mahakam Ulu terdiri dari lima kecamatan. Daerah Long Pahangai berada di paling ujung, berbatasan langsung dengan Serawak Malaysia. Dari Ujoh Bilang, butuh waktu delapan sampai sepuluh jam perjalanan menyusuri sungai sampai ke hulu Sungai Mahakam dengan perahu ces.

“Mau tidak mau kita harus ke sana. Apalagi lansia, kan tidak mungkin dijemput datang ke Puskesmas untuk divaksin,” terang Teguh.

Sulitnya medan, membuat distribusi vaksin tidak selalu berjalan mulus. Sering kali, agenda vaksinasi batal karena perjalanan tim benar-benar bergantung pada kondisi alam hari itu. Apalagi, Sungai Mahakam memiliki karakteristik berbeda. Riamnya dikenal ganas dan berbahaya. Sehingga perhitungan matang sangat diperlukan untuk meminimalisir risiko.

“Kalau sedang pasang sungai, perahu rawan terbalik,” sebut Teguh.

Teguh berceritra tentang medan paling mengerikan di Sungai Mahakam. Diberi nama Riam Udang. Bila melintasi wilayah itu ketika air pasang, arus sungai berubah bak air terjun. Bahkan pernah suatu hari, katanya, kapal ditumpangi petugas Puskesmas mengalami masalah hingga obat-obatan dibawa berhamburan ke sungai dan tidak bisa diselamatkan.

“Sering perahu karam di situ,” kenang Teguh.

Riam panjang tak kalah menegangkan. Memiliki panjang tiga kilometer dan masih banyak bebatuan.

“Kalau air surut, itu batu berukuran besar bermunculan. Motoris perahu mesti gerak zig zag.”

Tetapi bagi Teguh dan tim. Ancaman alam itu tidak sedikit pun mematahkan semangat mereka. Sejak awal, dia selalu mengingatkan tenaga kesehatan di sana. Demi kemanusiaan jangan menyerah pada keadaan. Mereka harus siap memberikan pertolongan terbaik untuk warga. Meski kadang nyawa menjadi taruhannya.

“Kalau vaksin harus dikirim, mau tidak mau riam itu harus diterjang. Kalau terlalu ekstrem, baru kita tunda,” katanya.

Warga Berlarian Menolak Divaksin

Usai melalui medan terjal demi distribusi vaksin, tugas Teguh dan tim belum selesai. Tantangan kali ini tidak kalah berat. Dia harus bisa meyakinkan warga agar mau divaksin. Sebab tidak sedikit warga menolak.

Warga langsung lari bersembunyi ke ladang ketika tahu petugas vaksinator datang. Bila sudah begitu, Teguh dan tim terpaksa bermalam sambil membujuk dan memberikan pemahaman pada warga tentang pentingnya vaksinasi.

“Kami menginap di kampung itu 2-3 hari sambil diskusi bersama tokoh masyarakat sampai warga mau turun,” cerita Teguh.

Edukasinya diberikan Teguh perlahan mulai diterima masyarakat. Hingga akhirnya, satu per satu dari mereka mau menjalani vaksinasi. Bagi Teguh, kerja sebagai tenaga kesehatan buka semata-mata mengejar target, tetapi masyarakat juga berhak mendapatkan penjelasan kenapa mereka harus mendapatkan vaksin.

“Dulu kami bingung, kalau tidak mengejar di ladang kapan bisa divaksin. Seperti di daerah Long Pahangai di perbatasan tidak mau divaksin sama sekali. Kami terus sadarkan, kami kasih data-data, kami dekati lurah, tokoh dan petinggi adat,” terang Teguh lagi.

Hampir tujuh bulan, Teguh dan tim bergantian keluar masuk perkampungan di Mahakam Ulu. Melewati sungai, kehujanan hingga ancaman riam terjal menjadi makanan sehari-hari.

Baginya, suka duka itu harus dilalui. Meski kadang kala terasa berat. Tetapi tidak ada yang lebih berharga dari sebuah pengabdian dan pertolongan.

“Bagi saya itu semua suka dukanya. Tetapi kami tetap berdoa dan berserah diri pada Tuhan. Apalagi kalau lagi tugas ke kampung di hulu sungai. Itu tantangan kami melakukan vaksinasi di sini,” ujar dia.

Memboyong Warga Pedalaman Demi Vaksinasi

Keinginan masyarakat Desa Oesoko, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), mendapatkan vaksinasi Covid-19 terjawab. Berbulan-bulan menunggu, akhirnya giliran mereka mendapat suntikan.

Sudah berulang kali mereka dibuat kecewa. Mendatangi fasilitas kesehatan terdekat, tetapi vaksin tidak tersedia. Hingga datanglah kabar gembira. Diundang mengikuti vaksinasi di kantor kepolisian setempat.

Tetapi, mereka kebingungan. Bagaimana caranya bisa sampai ke Polsek Insana Utara. Sebab dari Desa Oesoko berjarak 10 kilometer. Warga di sana juga tidak memiliki transportasi. Padahal, segala syarat administrasi diminta sudah dilengkapi.

Petugas Polsek Insana Utara kemudian memfasilitasi. Warga berminat divaksin diminta berkumpul di satu tempat. Mereka dijanjikan akan dijemput menggunakan dua mobil patroli,

“Kita lakukan penjemputan terhadap warga yang tidak memiliki kendaraan pribadi dan kepada warga yang ekonominya sangat rendah,” kata Kapolsek Insana Utara, Ipda Dominggus Duran, melalui pesan whatsapp, Rabu (15/9).

Mobil patroli kemudian berangkat pada hari ditentukan. Jalan rusak tidak menjadi kendala proses penjemputan warga. Total ada 150 warga ikut untuk divaksin.

“Sebelum pelaksanaan kegiatan vaksin kami telah melakukan sosialisasi dan mengambil data berupa KTP atau KK dari warga, untuk selanjutnya dimasukkan ke puskesmas dan menjadi prioritas saat pelaksanaan vaksin,” katanya.

Proses vaksinasi hari itu berjalan lancar. Meskipun belum semua warga, tetapi mereka yang diangkut hari itu telah mendapatkan vaksin AstraZeneca dosis pertama.

“Ada dua dusun yang antusias untuk divaksin tapi ada dua dusun lagi yang masih takut dan trauma dengan vaksin,” kata Sekertaris Desa Oesoko, Wilfridus Nailai, saat berbincang dengan merdeka.com.

Diakui Nailai, pro kontra vaksin Covid-19 juga terjadi di desanya. Ramainya informasi tidak benar soal vaksin membuat warga kebingungan. Tetapi edukasi tetap dimasifkan. Harapannya, warga dapat mengetahui tujuan dari vaksinasi ini dan tidak mudah percaya informasi bohong atau hoaks.

“Patut diakui bahwa sebagian warga desa masih percaya tentang hoaks vaksin tersebut sehingga menimbulkan pro kontra mengenai vaksinasi Covid di kalangan masyarakat,” katanya.

Upaya mempermudah masyarakat mendapatkan vaksinasi juga dilakukan Bripka Jansen Hutabarat. Dia sengaja mengemudikan mobil patroli untuk menolong warga Desa Talang Pring, Kecamatan Rakit Kulim, Kabupaten Indragiri Hulu, mendapatkan vaksinasi di fasilitas kesehatan ditentukan.

Jansen memilih kendaraan double gardan lantaran kondisi jalan di desa sangat mengkhawatirkan. Berupa tanah kuning yang bila turun hujan menjadi licin dan berlumpur. Jurang juga menghantui di sisi kiri dan kanan jalan.

Dia menjemput para tenaga kesehatan di sana untuk divaksin. Jansen tidak ingin kendala transportasi membuat nakes sebagai garda terdepan penanganan Covid-19 malah terkendala mendapatkan vaksin.

“Takutnya berangkat pagi aman, tapi sorenya justru hujan. Makanya saya pakai saja mobil patroli, supaya para nakes berangkat dengan lancar,” ucap Jansen.

Jansen menyetir kendaraan dengan kondisi bak terbuka. Para nakes duduk manis di belakang dengan jarak tempuh hingga 42 kilometer menuju Puskesmas kecamatan.

“Saya sangat senang membawa vaksin dan para nakes meski jalan terjal dan memiliki tantangan. Kenangan ini paling berkesan, karena para nakes semakin dekat dengan polisi. Mereka juga sudah beranggapan bahwa polisi turut andil dalam vaksinasi tersebut. Mereka juga sangat apresiasi degan hadirnya Polri dalam pelaksanaan vaksinasi ini,” tutup Jansen.

Vaksin bukan obat. Tetapi sebuah ikhtiar untuk sehat. Banyak orang berjuang demi mendapatkan vaksin. Banyak pula yang bekerja keras agar semua tervaksin.

Andai kata proses vaksinasi berjalan lancar maka herd immunity bisa tercapai. Artinya, seluruh daerah di Indonesia bisa segera terbebas dari pandemi. [lia]

Read More

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *